Jejakkaumkusam, - Bagi para petualang dan pencinta alam, nama 'Nyomie and Max' mungkin sudah tak asing lagi di telinga. Pasangan ibu dan anak ini cukup dikenal di social media khususnya Instagram. Tidak lain karena sosok Maxwell Amertha, pendaki cilik Indonesia yang telah menapaki 16 gunung dan bukit yang tersebar di hampir seantero Pulau Jawa di usianya yang baru tiga tahun.
Bersama ibunya Nyoman Sakyarsih (Nyomie), Max, begitu ia akrab disapa, telah menjejakkan kakinya di Gunung Bromo, Gunung Batur, Puncak Prau dan Puncak Sikunir di Dieng, Gunung Rinjani, Ijen, Semeru, hingga yang terakhir Argopuro pada Januari 2016 lalu. Sejak usia lima bulan Max memang sudah akrab dengan alam ketika pertamakali sang ibu membawanya naik gunung.
Puncak Bromo menjadi titik awal dimulainya perjalanan Nyomie dan Max berpetualang. Kala itu, sekitar Mei 2013, tujuan Nyomie 'nekat' membawa Max dalam gendongannya seorang diri adalah untuk merenungkan sebuah keputusan besar yang akan ia ambil demi menentukan jalan hidup selanjutnya.
"Dulu aku butuh liburan untuk refreshing tapi aku juga tidak bisa meninggalkan dia. Jadi aku berangkat ke Bromo. Aku ingin dia berada di dekatku saat aku memutuskan itu," cerita wanita berusia 31 tahun ini saat berbincang dengan Wolipop (Jejakkaumkusam) di Kota Kasablanka, Jalan Casablanca, Jakarta Selatan.
Selama perjalanan, ada kejadian unik yang membuat Nyomie yakin bahwa alam bebas adalah 'dunianya' Si Kecil Max. Tidak seperti bayi pada umumnya yang biasanya akan rewel atau menangis karena lelah dan dinginnya udara yang menusuk tulang. Max justru merasa nyaman dan sangat menikmati perjalanan bersama sang ibu. Bahkan ia jadi lebih aktif ketika Nyomie berhenti berjalan untuk beristirahat sejenak.
Kaki-kaki mungil Max bergerak lincah dalam gendongan. Seolah meminta wanita kelahiran Bali ini untuk terus berjalan. Mencapai puncak untuk melihat indahnya pemandangan matahari terbit di Puncak Bromo.
"Pas trekking itu kok dia senang. Kalau aku berhenti karena ngos-ngosan untuk ambil napas, dia tendang-tendang aku. Itu dalam keadaan tidur. Begitu matahari terbit baru dia bangun. Sampai atas pun dia nyaman-nyaman saja nggak terlihat kedinginan," tutur wanita yang berprofesi sebagai dokter hewan ini.
Melihat Max cukup antusias dan menikmati perjalanan pertamanya, muncul keinginan Nyomie untuk membawa anaknya berpetualang ke lebih banyak daerah. Tentu saja dengan persiapan yang lebih matang dan stamina lebih kuat. Ia sempat mendaki bersama teman-temannya tanpa membawa Max, dan berakhir dengan penyesalan karena selama perjalanan, yang terlintas di pikirannya hanyalah sang buah hati.
Sejak itulah wanita yang juga aktif menyelamatkan hewan-hewan terlantar ini memutuskan bahwa ia tidak akan pergi ke manapun tanpa mengajak Max. Karena sosok mungil itu menjadi penyemangatnya tak hanya saat berpetualang tapi juga dalam seluruh kehidupannya.
"Sempat mendaki sama teman-teman saat itu aku tinggal dia. Dan itu rasanya nggak enak banget. Aku sangat stres dan menyesal udah tinggalkan dia walaupun hanya sebentar. Aku pikir tidak ada liburan yang bisa aku nikmati kalau tidak bawa dia," ujar Nyomie.
Perjalanan kedua Max, saat usianya menginjak 1,1 tahun ke Gunung Batur. Medan pendakian yang cukup sulit tidak menyurutkan niat Nyomie untuk menggendongnya sendiri hingga puncak, meskipun saat itu ia juga ditemani seorang porter. Medan terbilang menantang, karena jejakannya lebih banyak pasir. Selain membawa Max yang sudah memiliki bobot 9 kg, Nyomie juga harus menggendong tas dengan berbagai perlengkapan seberat 5 kg.
"Jadi total beratnya 13 kg," ucapnya seraya tertawa.
Source: Detik.com
loading...





