Jejakkaumkusam, - BADAN yang terasa sangat lelah, lemas dan pusing, sering dikaitkan dengan keadaan tubuh yang kekurangan oksigen. Oksigen merupakan kebutuhan pokok bagi tubuh kita, supaya bisa menjalani berbagai aktivitas. Jika kekurangan, tentu akan menyebabkan berbagai macam gangguan. Kurangnya pasokan oksigen dalam tubuh untuk menjalankan fungsi normalnya dikenal dengan istilah hipoksia.
Hipoksia berkaitan erat dengan hipoksemia, yakni rendah atau berkurangnya pasokan oksigen dalam darah. Kebutuhan oksigen dalam darah, sekitar 150 mmhg dibutuhkan untuk paruparu, lalu yang didistribusikan ke otak adalah sekitar 50 – 70 mmhg, supaya tubuh bisa berfungsi dengan normal. Berada dalam keadaan atau tempat dengan kadar oksigen yang tipis, misalnya berada di puncak gunung, kita perlu berwaspada. Kenapa?
“Oksigen itu untuk membantu metabolisme sel-sel dalam tubuh, kalau kekurangan, bisa terjadi kematian sel, atau sel-sel tersebut menjadi tidak berfungsi, kalau tidak berfungsi, bagian-bagian di dalam tubuh bisa rusak,” papar dr Yuriz Bahtiar, PhD.SpBS ahli bedah saraf RSND Semarang.
Yuriz pun menjelaskan, setiap satu menit, 20% darah dalam tubuh dialirkan ke otak. Meski sebenarnya tubuh kita memiliki mekanisme auto regulasi, yakni membuat otak bisa bertahan lebih lama dalam keadaan kekurangan oksigen, tubuh kita bisa saja mengalami hipoksia.
Dalam keadaan hipoksia, tubuh kita mengalami vasodilatasi, yakni terjadinya pelebaran pembuluh darah supaya darah lebih banyak mengalir ke otak. Makanya pada ketinggian gunung atau dalam keadaan oksigen yang tipis, jari-jari tangan terasa kaku atau membiru. “Ini seolah-olah anggota tubuh lainnya ‘dikorbankan’ supaya pasokan darah cukup untuk otak, supaya kita tetap sadar,” jelas Yuriz.
Mengapa otak membutuhkan begitu banyak darah – -dan tentu saja oksigen–? Karena satu-satunya ‘makanan’ untuk otak hanya bersumber dari gula darah. Untuk itu, para pendaki gunung biasanya melakukan persiapan yang matang, dan bila perlu mereka membawa tabung berisi oksigen untuk berjaga- jaga. Selain berada pada puncak gunung, berada dalam ruangan atau tempat yang tercemar, juga berisiko terhadap hipoksia. Misalnya berada di tengah kebakaran, atau ruangan yang penuh asap rokok.
Penanganannya
Dalam keadaan kekurangan oksigen, jantung akan memompa darah lebih cepat. Sehingga gejala awal dari hipoksia adalah bernapas dengan cepat, terengah-engah. Lalu sesak napas, tubuh menjadi lemas, bisa terjadi kejang, jika terus berlanjut dan tidak segera ditangani, bisa terjadi pembengkakan otak dan paru-paru. Inilah yang berbahaya, karena bisa menyebabkan kematian, seperti yang dialami alm. Prof. Widjajono Partowidagdo, M.Sc, M.A, Ph.D, mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Ia meninggal dunia di Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat pada 21 April 2012, disebutkan bahwa penyebabnya karena mengalami hipoksia. Mengapa masyarakat yang tinggal di dataran tinggi bisa ‘kebal’ terhadap hipoksia ataupun hipoksemia?
Ini karena tubuh mereka sudah beradaptasi dengan lingkungan berkadar oksigen tipis sejak mereka lahir. Secara fisik, kapasitas paru-parunya lebih besar, dan ukuran jantungnya juga lebih besar daripada orang yang tinggal di dataran rendah. Jika Anda mendaki gunung, dan melihat tandatanda hipoksia dari salah seorang rombongan, pertolongan pertama atau basic life support yang bisa Anda lakukan adalah tindakan ABC; Air way, Breathing, dan Circulation.
Air way adalah dengan membebaskan jalan napasnya, misalnya melonggarkan pakaiannya pada daerah dada, memberinya ruang yang nyaman untuk bernapas, atau membawanya ke tempat yang lebih rendah. Ini karena semakin tinggi suatu tempat, semakin tipis oksigennya. “Pada tiap ketinggian 5000 meter, kadar oksigen turun separuh dari jumlah normal, dan begitu seterusnya setiap 5000 meter,” ujar Yuriz.
Selanjutnya Breathing atau dengan memberikan napas buatan, dan Circulation melalui menormalkan denyut jantung atau memberi CPR (Cardiopulmonary resuscitation). Jika cara ABC tersebut tidak berpengaruh, maka segera bawa korban ke rumahsakit terdekat. Karena yang dikhawatirkan dari kondisi hipoksia adalah jika sampai terjadi pembengkakan otak dan paru-paru.
Tips Pendaki Gunung
Dengan kadar oksigen yang menurun pada setiap ketinggian 5000 meter dan kelipatannya, istirahat pada titik tertentu sebelum batas berkurangnya jumlah oksigen, sangat penting. Bermalam sehari atau dua hari, akan membuat tubuh kita beradaptasi dengan lingkungan, sekaligus semacam memberi pasokan oksigen yang cukup bagi tubuh. Jadi, jangan abaikan istirahat. Kemudian, dalam satu tim atau rombongan pendaki, minimal harus ada satu orang petugas kesehatan, membawa alat-alat kesehatan, dan bila perlu tabung oksigen.
Bagi para pendaki baru, melakukan pendakian secara bertahap; yakni mendaki hanya sampai jarak ketinggian tertentu pada setiap kesempatan, penting sebagai latihan penyesuaian, sebelum kemudian menambah ‘jarak tempuh’ yang lebih tinggi. “Tidak ada istilah ‘sudah terbiasa’ untuk melalaikan persiapan yang matang, berhenti untuk beristirahat, mengajak ahli atau petugas dan membawa alat-alat kesehatan ketika akan mendaki gunung. Fisik Anda mungkin kuat atau sudah terbiasa, tapi orang lain belum tentu memiliki fisik yang sama kuatnya dengan Anda,” papar Yuriz
Source: Suara Merdeka
loading...

