 |
| Dok. Unpar |
Jejakkaumkusam, - Fransiska Dimitri (23) dan Mathilda Dwi Lestari (23), dua mahasiswi Fakultas Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Kota Bandung mengemban misi besar. Keduanya siap menaklukkan tujuh puncak gunung tertinggi dunia!
Fransiska dan Mathilda memulai perjalanannya sejak 2014 lalu. Saat itu, gunung yang didaki adalah Carstensz Pyramid di Papua. Gunung itu memiliki ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Setelah itu, pada 2015, Gunung Elbrus di Rusia dan Kilimanjaro di Tanzania juga ditaklukkan. Gunung itu masing-masing memiliki ketinggian 5.642 mdpl dan 5.895 mdpl.
Tak berhenti sampai disitu, pada Januari 2016, mereka juga berhasil menginjakkan kaki di puncak Gunung Aconcagua, Argentina. Gunung itu memiliki ketinggian 6.962 mdpl.
Saat mendaki Carstenzs, Elbrus, dan Kilimanjaro, semuanya ditaklukkan bertiga. Sedangkan di Aconcagua, dari tiga orang, hanya dua yang bisa sampai ke puncak yaitu Fransiska dan Mathilda.
Selanjutnya, masih ada tiga gunung tertinggi dunia yang akan ditaklukkan. Tapi hanya Fransiska dan Mathilda yang bakal melanjutkan perjalanan.
"Sisanya tinggal kita berdua yang lanjut. Dua orang ini masih akan menyelesaikan tiga misi (pendakian) lagi," ujar Mathilda.
Yang terdekat, gunung yang akan didaki adalah Vinson Massif di Antartika. Rencananya Fransiska dan Mathilda akan bertolak dari Indonesia menuju Antartika antara 22 atau 23 Desember 2016.
Perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu sekira satu bulan. Jika sesuai dengan jadwal, keduanya baru akan kembali tiba di Indonesia pada akhir Januari 2017.
Jika seluruh perjalanan mendaki tujuh puncak gunung tertinggi dunia terealisasi, maka Fransiska dan Mathilda akan mencatat sejarah tersendiri. Mereka akan tercatat sebagai perempuan ke-34 dan ke-35 yang berhasil menaklukkan tujuh puncak tertinggi dunia.
Mereka juga akan jadi dua perempuan pertama di Asia Tenggara yang berhasil melakukannya. Sebab, hingga kini, belum ada satu pun perempuan di Asia Tenggara yang tercatat sebagai seven summiters.
Untuk mewujudkannya, Fransiska dan Mathilda tidak melakukan persiapan instan. Sejak 2014, mereka sudah mempersiapkan diri agar memiliki bekal hingga akhir perjalanan di puncak ketujuh.
"Persiapannya dari awal ekspedisi kita memang mempersiapkan diri sampai di gunung terakhir. Latihan juga dari awal terus berkesinambungan sampai sekarang, enggak pernah putus. Dari segi peralatan kami juga menabung," jelas Fransiska.
Khusus untuk proses latihan, ada banyak hal yang dilakukan untuk menempa fisik hingga mental. Dalam sepekan, enam hari dipakai untuk berlatih. Itu pun mereka harus berbagi waktu antara latihan, kuliah, serta berbagai aktivitas lainnya.
Lalu apa mimpi besar kedua perempuan tangguh itu ingin mewujudkan ambisi mendaki tujuh puncak gunung tertinggi dunia? Jawabannya adalah mereka ingin membuktikan bahwa perempuan tidak hanya bisa sekedar jadi pesolek. Mereka juga memiliki ketangguhan tak kalah besarnya dari laki-laki.
"Saya punya cita-cita ingin jadi presiden. Tapi itu kayaknya untuk sekarang kejauhan. Sekarang saya punya kesempatan untuk ngasih sesuatu nih buat Indonesia. Sekarang saat saya masih jadi mahasiswi, kenapa enggak saya ambil kesempatan itu," tutur Fransiska.
Mathilda juga memiliki pandangan sama. Ia ingin memberi sesuatu bagi Indonesia dan membuat publik bangga. "Mimpi besarnya, salah satu hal yang bisa saya kasih buat Indonesia, kalau yang lain semua berprestasi di bidang akademik, olahraga, dan lain-lain. Kalau saya, ini salah satu yang bisa saya kasih lewat pendakian gunung," katanya.
"Selain itu, sebenarnya ekspedisi ini juga bertjuan untuk menginspirasi wanita Indonesia pada khususnya. Karena bidang pendakian ini didominasi kaum pria, kita mau buktikan sekarang pria-wanita sama saja. Kita bisa lakuin apa saja yang kita mau. Kalau mau terus bermimpi pun enggak apa-apa, asal kita mau berjalan untuk mewujudkannya," papar Mathilda.
Sebastian Karamoy, tim manajerial Mahitala, mengatakan dalam proses ekspedisi seven summits, pihaknya mendapat dukungan penuh dari Unpar. Selain dari segi finansial, Unpar juga memberi bantuan dalam berbagai hal seperti publikasi, membuka jejaring alumni dan sponsor.
"Alumni, rektor, sampai markom selalu membantu kita," ujar Bastian.
Alumni dan pihak rektorat pun tak tanggung-tanggung dalam memberikan sokongan. Mereka bahkan ikut bergerilya untuk mendapat bantuan sponsor demi membantu terwujudnya rencana pendakian tujuh puncak gunung tertinggi dunia.
Sumber: Okezone