-->

Monday, 9 January 2017

ilustrasi/komunitas trashbag

Jejakkaumkusam, - Gunung Marapi Sumatra Barat merupakan salah satu gunung aktif yang berada di Kabupaten Tanah Datar, Agam dan Kota Padang Panjang dengan sejuta pesonanya yang seolah memanggil-manggil untuk ditaklukan para pecinta alam.

Dengan ketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut Gunung Marapi senantiasa ramai dikunjungi para pegiat alam bebas terutama di akhir pekan dan pada hari libur.

Saat pergantian tahun 2016, gunung yang posisinya berada di jalur utama menuju kota wisata Bukittinggi didaki ribuan orang berasal dari Sumatra Barat, Riau, Jambi, Bengkulu.

Biasanya para penakluk gunung memilih rute dari Koto Baru Kabupaten Tanah Datar sebagai titik awal untuk mendaki Marapi dengan waktu tempuh sekitar lima hingga enam jam ke puncak.

Memiliki medan yang cukup terjal, pendaki akan menemui pemandangan hutan yang eksotik dengan lumut hijau serta aroma tanah yang khas. Lazimnya pendaki berangkat sekitar sore hari dan akan sampai di puncak sekitar pukul 22.00 WIB.

Satu jam menjelang puncak para petualang alam akan tiba di kawasan batu cadas dan memilih bermalam untuk kemudian pada paginya melanjutkan perjalanan ke puncak.

Meskipun menjadi primadona para pecinta alam untuk ditaklukkan, di sepanjang jalur pendakian hingga ke puncak Gunung Marapi penuh dengan sampah berserakan mulai dari plastik, botol minuman, sandal, hingga bungkus makanan.

Sampah tersebut merupakan ulah para pendaki yang kurang peduli terhadap kebersihan sehingga saat melakukan perjalanan membuang bungkus makanan dan lainnya seenaknya.

Fenomena tersebut membuat salah satu komunitas yang menamakan diri Trashbag Community Daerah Perwakilan Sumbar dari Kabupaten Solok terpanggil untuk membersihkan sampah di gunung dan membawanya turun.

Ketua Trashbag Community DPD Sumbar, Rozi Erdus Chaniago menilai menumpuknya sampah di Gunung Marapi disebabkan rendahnya kesadaran pendaki.

Ia mengatakan masih banyak pendaki yang tidak memiliki kesadaran untuk melakukan kegiatan yang bersifat konservatif. Contoh kecilnya saja tidak mau membawa sampahnya sendiri saat turun gunung.

"Wawasan konservasi dalam pendakian gunung perlu ditingkatkan," kata dia.

Faktor lainnya dari penumpukan sampah di Gunung Marapi disebabkan karena rendahnya keinginan sesama pendaki untuk saling mengingatkan betapa penting membawa sampah turun kembali.

Rozi menyampaikan ada banyak langkah yang dapat dilakukan untuk membersihkan tumpukan sampah itu, mulai dari hal kecil seperti membawa kembali sampah sendiri turun gunung, mengingatkan pendaki gunung lainnya jika membuang atau meninggalkan sampahnya.

"Juga bisa dengan sindiran, ketika mereka membuang sampahnya sembarangan kami langsung memungutnya di depan mereka," kata dia.

Sindiran kecil seperti itu dapat berdampak langsung kepada para pendaki, katanya.

Ia menyebutkan hingga saat ini pihaknya telah melakukan lebih dari 300 kali operasi bersih-bersih di lima gunung yang tersebar di Sumbar, yaitu Gunung Talamau, Marapi, Singgalang, Talang, dan Tandikek.

Operasi bersih-bersih itu ia lakukan bersama komunitasnya yang berjumlah puluhan orang tanpa pamrih dengan harapan seluruh gunung di Sumbar yang menjadi primadona pendaki tidak lagi kotor dan merusak pemandangan.

"Sampah itu tidak hanya merusak pemandangan, namun juga mencemari sumber air dan tumbuhan," ujarnya.

Seharusnya ketika memutuskan mendaki suatu gunung, semuanya harus dipersiapkan secara matang mulai dari fisik hingga hati. Sebab banyak yang harus ditahan, seperti membuang sampah sembarangan, buang air sembarangan, vandalis dan berbicara sembarangan.

Untuk itu ia mengimbau seluruh pendaki gunung di Sumbar dan Indonesia untuk terus menjaga kebersihan, membawa turun sampah dan peduli terhadap lingkungan.

Mari sama-sama kita untuk mengembalikan kelestarian gunung tanpa sampah, membawa sampah turun kembali karena gunung bukan tempat sampah, katanya.


Halaman Berikutnya:      

loading...
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Sponsor Iklan

loading...