-->

Wednesday, 22 March 2017

Kondisi Danau Ranupani yang kotor dan tertutup kiambang (Hari Istiawan/Okezone)


Jejakkaumkusam, - Hujan deras mengguyur Desa Ranupani yang menjadi pintu masuk pendaki Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, kala itu. Air yang turun dari langit 'mengajak' lumpur dari persawahan mengalir ke bawah. Meliuk-liuk mengalir ke cerukan parit hingga akhirnya bermuara di Danau Ranupani.

Air berlumpur limbah pertanian ini mengandung pupuk kimia yang digunakan warga di lahannya. Selain itu, air lumpur itu bercampur dengan sampah, baik sampah dari para pendaki yang ‘bandel’ maupun sampah yang tidak tertampung di tempatnya.

Air bercampur lumpur dan limbah pupuk ini menjadi ‘makanan sehat’ bagi tumbuhan invasif salvinia molesta (kiambang) yang tumbuh subur di atas perairan danau seluas 0,75 hektare ini. Konon, luas danau ini luasnya mencapai satu hektare lebih.

Lumpur yang dibawa air hujan dari lereng-lereng bukit pun turut menjadi penyebab pendangkalan danau yang sudah melegenda ini. Para pegiat lingkungan dari berbagai komunitas secara sukarela menyelamatkan Ranupani dari ancaman salvinia molesta yang bisa menutup seluruh permukaan danau yang berada di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut (MDPL) ini.

Tercatat sejak pertengahan 2010, tumbuhan ini mulai menyerang Danau Ranupani. Pada 2012, para aktivis lingkungan dari berbagai pihak bahu-membahu membersihkan salvinia secara berkelanjutan.

“Tahun 2012 pernah bisa dibersihkan bersama warga dan relawan. Hanya 38 hari sudah bersih, tapi dilakukan secara terus menerus setiap hari secara bertahap,” kata Andik Iskandar yang lebih kenal disebut Andik Gondronk, dilansir dari Okezone (Jejakkaumkusam), Rabu (22/3/2017).

Namun karena tidak dikontrol dengan baik, tumbuhan yang berkembang biak dengan rhizoma atau sejenis akar ini kembali menyerang dalam beberapa tahun terakhir.(Okezone)

loading...
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Sponsor Iklan

loading...