![]() |
Basarnas SoloTim SAR menemukan Khodar pendaki yang sempat hilang kontak di Gunung Merapi dalam kondisi lemas, Kamis (4/5/2017) dinihari. |
Jejakkaumkusam, - Khodar Ramadhan (22), pendaki asal Depok, Jawa Barat mengaku sempat kesulitan mendapat jarak pandang ideal ketika hendak turun dari pasar bubrah, Gunung Merapi.
Hal inilah yang menjadi awal mula dirinya akhirnya terpisah dengan rombongan sampai membuatnya tersesat.
Rabu (3/5/2017) siang sekitar pukul 14.00, Khodar dan rekannya turun. Baru mulai meninggalkan Pasar Bubrah, korban merasa sudah terpisah dari rombongan namun memutuskan tetap berjalan pelan.
"Jarak pandang cuma 2-5 meter, teman saya sudah tidak terlihat, saya pikir bisa menyusul mereka," kata Khodar.
Bukan perkara mudah bagi Khodar menjangkau puncak. Karena untuk naik ke puncak di luar jalur normal butuh tenaga ekstra.
Berbekal sisa logistik berupa air mineral 1,5 liter, Khodar berusaha mencapai puncak. Target terpenuhi, setelah sekitar pukul 18.00 ia sampai di puncak merapi. Tepatnya di sekitar pos pantau Merapi di area bibir puncak, ia berteduh di bawah bangunan menunggu sampai keesokan hari.
Baru sekitar tengah malam atau sekira pukul 23.00, Khodar mendengar suara orang berteriak.
"Yang ada di kepala saya pasti mereka datang untuk evakuasi, saya berusaha mencoba membalas dengan berteriak tapi sepertinya suara saya tidak kunjung terdengar," kata Khodar.
Sampai menunggu beberapa jam, Khodar melihat arah pergerakan beberapa orang yang berteriak tadi mendekat atau naik sampai ke area pasar bubrah.
Di titik ini teriakan Khodar didengar oleh tim evakuasi dari Barameru sebelum akhirnya dijemput ke puncak Merapi.
Seorang anggota Barameru, Badri yang ikut dalam proses evakuasi mengakui jika awal mula ditemukkanya lokasi korban tersesat, Khodar berawal dari komunikasi berupa teriakan.
Dari teriakan korban, tim awal yang beranggotakan empat orang bisa mendeteksi titik keberadaan korban.
Bermodal informasi awal jika ada seorang pendaki tersesat, Badri dan tiga rekannya langsung melalukan pencarian. Tujuan utama adalah area Pusung London yang diyakini menjadi titik terdekat lokasi hilangnya korban.
"Perkiraan kami, survivor tersesat di area dekat Pusung London," kata Badri.
Namun tim memutuskan mendirikan tenda di area Gunung Ijo yang berada di sisi sebelah timur Puncak Merapi. Di titik inilah awal mula tim mendengar suara teriakan.
Hanya saja suara sangat pelan dan sering hilang begitu saja sehingga tidak dapat dipastikan apakah bersumber dari survivor.
Keyakinan tim menguat karena suara beberapa kali tetap terdengar meski pelan. Tim akhirnya memutuskan kembali ke Pasar Bubrah mendekati sumber suara.
"Dari keterangan pendaki lain di Pasar Bubrah, ada orang di puncak, kami makin yakin survivor berada di puncak," kata Badri.
Dan benar saja, dengan melakukan kontak suara, tim mendekati titik terakhir survivor dan mendapatinya di area bibir puncak Merapi. Kondisi survivor dikabarkan baik dan tanpa luka serius.
Beberapa waktu istirahat untuk memulihkan fisik dengan logistik, survivor turun tanpa dipapah.
Sumber: Tribun Jogja
loading...

