![]() |
| Ilustrasi/photo: Eagle Alone |
Informasi yang dilansir Jejakkaumkusam dari TEMPO menyebutkan, rombongan pendaki yang berjumlah tujuh orang berangkat melakukan pendakian dari Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, pada Selasa, 25 Juli 2017. Pada Kamis dinihari mereka diduga melakukan perjalanan ke puncak Mahameru dari Pos Kalimati. Di tengah perjalanan menuju puncak, terjadi badai.
Dari tujuh pendaki tersebut, tiga orang di antaranya melanjutkan pendakian ke puncak Mahameru. Informasi terakhir kemudian menyebutkan satu dari tiga orang itu tidak diketahui keberadaannya. Akhirnya, empat pendaki turun ke Ranupani untuk melaporkan satu anggotanya yang diperkirakan hilang. Sementara dua orang pendaki lainnya menunggu di Pos Kalimati.
Otoritas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru belum bisa dikonfirmasi ihwal seorang pendaki yang keberadaannya belum diketahui itu. Sementara itu, terdapat kesimpangsiuran data dan informasi yang beredar di lapangan. Ada informasi yang menyebutkan bahwa tiga orang pendaki yang belum diketahui keberadaannya hingga saat ini. Informasi lain menyebutkan satu pendaki saja yang belum diketahui keberadaannya.
Pada saat ini tim advance dari taman nasional masih berupaya untuk memastikan informasi di lapangan dengan terjun langsung. Kepala Kepolisian Sektor Senduro, Ajun Komisaris Jaman saat dihubunhi TEMPO tidak bisa memastikan bahwa pendaki yang terkena badai dalam perjalanan ke puncak Mahameru itu hilang atau tersesat.
"Saya belum bisa memastikan apakah hilang atau tersesat," kata Jaman dilansir Jejakkaumkusam dari TEMPO, Jumat siang ini.
Menurut Jaman, rombongan pendaki ini mulai melakukan pendakian pada Selasa lalu. Pihak taman nasional masih menunggu kabar hingga Jumat malam, pukul 19.00 WIB karena diperkirakan pendaki turun pada saat itu. "Jika malam ini pendaki tersebut belum turun, kemungkinan akan dilakukan Open SAR," ujar Jaman.(Tempo)
loading...

