-->

Monday, 17 July 2017

Gunung Pangrango.

Jejakkaumkusam, - Saya tersentak ketika melihat dua orang pendaki di jalur pendakian Gunung Gede Pangrango via Cibodas, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Saat itu, saya tengah mendaki Gunung Pangrango bersama kedua rekan saya.

Di depan saya, ada sepasang pendaki yang terengah-engah saat berada di jalur pendakian. Mereka tampak duduk di bebatuan. Namun, tak lama mereka kembali melanjutkan pendakian pada pagi hari itu.

Hal yang mengejutkan adalah seorang pendaki laki-laki tak menggunakan alas kaki alias "nyeker". Sementara, sang perempuan menggunakan sandal. Saya bingung.

"Kok tak pakai sandal, Mas?" tanya saya kepada pendaki itu.

"Sepatu saya dipakai teman saya. Kakinya sakit," jawab pendaki tersebut sambil melangkahkan kaki.

"Loh, gak sakit Mas kakinya?" tanya saya. "Enggak, mas," ujarnya sambil meneruskan pendakian tanpa menoleh.

Pendaki yang nyeker saat mendaki Gunung Pangrango, Jawa Barat/ KOMPAS.COM/WAHYU ADITYO PRODJO

Saya kembali meneruskan pendakian tanpa berbicara dengannya. Puncak Gunung Pangrango, dengan ketinggian 3.019 meter di atas permukaan laut (mdpl) telah menunggu. Namun selama perjalanan, bayang-bayang perjalanan pendaki tanpa alas kaki tersebut terus mengusik pikiran saya.

"Apa kakinya benar tak sakit? Saya yang menggunakan sepatu saja masih merasa sakit," batin saya.


Halaman selanjutnya:      

loading...
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Sponsor Iklan

loading...