Jejakkaumkusam, - Pesona keindahan alam Gunung Sindoro memikat banyak pendaki dan pecinta alam untuk rela berjuang hanya demi dapat menikmati semuanya itu.
Namun kadang, banyak yang lupa bahwa Sindoro tetaplah ancaman bagi mereka yang menyepelekan dan berlaku sombong.
Hukum alam tak tertulis berlaku di gunung yang terletak di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah ini.
Tak peduli itu siapa, jika mereka ceroboh dan tak memiliki niat kuat, serta pengalaman yang mumpuni, kesunyian alam Sindoro kapan saja siap memberikan jawaban.
Jawaban dari ancaman itu terkuak dalam kisah ditemukannya dua jasad pendaki di tahun 2015 lalu.
Kedua jasad itu ditemukan dalam sebuah operasi pencarian dan penyelamatan seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Kalijaga, Yogyakarta, bernama Ahmad Zaenuri yang hilang dalam pendakian bersama enam rekannya pada Kamis 2 April 2015.
Semua berawal dari operasi penyisiran selama hampir dua pekan yang dilaksanakan tim SAR gabungan dari berbagai unsur dan kelompok pecinta alam.
"Ini operasi SAR terbesar dan terlama dalam sejarah pendaki hilang di Gunung Sindoro," kata Upin, koordinator SAR pecinta alam Gunung Sindoro (Grasindo).
Dalam pencarian Zaenuri, ratusan anggota tim SAR yang dipecah dalam beberapa Search Rescue Unit (SRU) hanya untuk menyisir habis Gunung Sindoro dari kaki gunung hingga ke puncak.
Tak mudah bagi tim SAR menemukan Zaenuri, karena cuaca dan medan di Sindoro cukup menantang dan berbahaya.
Puncaknya, pada hari ke-tujuh operasi, tim SAR dari Basarnas menutup secara resmi operasi pencarian.
Namun, karena tekad dan rasa persaudaraan yang kuat, para pecinta alam dari berbagai wilayah melanjutkan pencarian dengan menggelar operasi pemantauan.
"Operasi kami lanjutan dengan operasi pemantauan dan kami bertekad menggelar operasi ini sampai survivor ditemukan, kapan pun itu," ujar Upin.
Tanpa kenal lelah, lebih dari 50 anggota SAR gabungan terus menelusuri setapak demi setapak hutan Sindoro.
Kerangka pendaki misterius
Di tengah kelelahan yang mulai mendera, pada Senin 13 April 2015, tiba-tiba tim SAR menemukan sesosok jasad di sebelah timur puncak Sindoro.
"Jasad ditemukan dalam kondisi sudah berupa kerangka dan hanya tersisa daging di bagian kakinya," kata Upin.
Tim SAR sadar, jasad pria yang mereka temukan itu bukanlah Zaenuri, pendaki yang hilang dan tengah mereka cari itu.
Karena secara teori, tak mungkin jasad survivor sudah menjadi kerangka hanya dalam tempo waktu 11 hari dari waktu dikabarkan hilang.
"Tim SAR tetap mengevakuasi jasad itu, meski kami sadar itu bukan survivor yang kami cari," tutur Upin.
Tak ada yang tahu, jasad siapakah yang sempat abadi di puncak gunung berketinggian 3.150 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.
Tim SAR menduga, jasad pria itu adalah jasad pendaki yang tewas, karena kedinginan disapu kabut Sindoro. "Selama beberapa bulan ini yang kami ketahui, tidak ada laporan pendaki, atau warga yang hilang di Sindoro," kata Upin.
Jasad misterius itu pun akhirnya dievakuasi ke kamar jenazah Rumah Sakit Umum (RSU) Temanggung menanti ada keluarga yang mengenali dirinya.
Zaenuri ditemukan tak bernyawa
Strategi demi strategi diatur pada malam sebelum operasi dimulai, tim SAR dibagi dalam SRU-SRU dengan bidikan daerah pencarian di zona yang belum pernah terjamah manusia dan sama sekali belum sempat tersisir tim SAR.
Jerih payah tim SAR akhirnya terbayarkan, dengan ditemukannya orang yang selama dicari. Pada Rabu 15 April 2015, atau tepat dua pekan dari dikabarkan hilang dalam pendakian menuju puncak Sindoro.
Ahmad Zaenuri akhirnya berhasil ditemukan pada koordinat 7.18.00.2 LS dan 110.00.53 BT, atau telah melenceng jauh dari titik terakhir hilangnya survivor yakni di sekitar pos 4.
Sayangnya, Zaenuri tak dapat bertahan, ia tiada sebelum sempat ditemukan tim SAR. Kondisi jasadnya pun telah membeku diterpa dinginnya hawa Sindoro.
"Survivor ditemukan meninggal dunia oleh tim SRU 2 tim SAR MDMC sekitar pukul 11.45 WIB," kata Upin.
Tim SAR hanya memperkirakan, Zaenuri meninggal karena kelaparan dan kedinginan, setelah lebih dari 10 hilang tanpa membawa bekal makanan dan minuman apa pun.
Jasad Zaenuri dievakuasi ke Posko SAR Sindoro untuk kemudian dibawa dan dikebumikan di kampung halamannya di Klaten, Jawa Tengah.(Viva)
loading...

