-->

Sunday, 8 January 2017

Komunitas Gimbal Alas dan sampah yang mereka kumpulkan sepanjang perjalan menuju Puncak Gunung Rinjani. Foto : Komunitas Gimbal Alas

Jejakkaumkusam, - Berbicara tentang perilaku masyarakat Indonesia tentang sampah, sepertinya tak pernah selesai. Sampah berserakan hampir di semua tempat di mana ada aktifitas manusia di sana. Mulai dari pemukiman, jalan, sungai, bahkan hingga jauh di tengah hutan. Sampah sudah menjadi sebuah kelaziman dalam budaya masyarakat Indonesia akhir-akhir ini.

Gunung-pun tak luput dari invasi sampah yang menggunung, terutama di gunung-gunung yang menjadi tujuan favorit pada pendaki.

Dari hasil survei di delapan taman nasional dan tujuh gunung oleh Komunitas Sapu Gunung yang bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan organisasi mahasiswa pencinta alam sepanjang 11-24 April 2016, didapati sebanyak 453 ton sampah mengotori kawasan taman nasional. Mayoritas sampah bertumpuk, ditanam, dan bertebaran di lokasi perkemahan pendaki.

Direktur Jenderal Pengolahan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Beracun (B3) KLHK, Tuti Hendrawati Mintarsih mengatakan, seperti dikutip dari tempo.co, sampah plastik mendominasi sebanyak 53 persen atau 250 ton dari 453 ton sampah. Sampah plastik menjadi persoalan serius karena sangat sulit terurai di dalam tanah dan secara permanan berpotensi mencemari ekosistem taman nasional.

Sebutlah Gunung Rinjani, dari data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, baru-baru ini tak kurang dari 1,14 ton diturunkan oleh para relawan yang tergabung dalam Clean Up Rinjani. Gunung Semeru lebih memprihatinkan lagi, menurut data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, diperkirakan para pendaki meninggalkan sampah sebanyak 250 kilogram per hari.

Hal ini juga terjadi di Gunung Gede Pangrango, yang memang menjadi salah satu gunung tujuan favorit para pendaki baik pendaki nasional maupun internasional. Sampah yang diturunkan pada tanggal 25 Desember 2016 yang lalu dari Gunung Putri tak kurang dari 1 ton dan 235 kilogram dari Pos Rawa Denok.

Ardi Andono, Kepala Seksi Wilayah 1 Taman Nasional Gede Pangrango (TNGGP) menyampaikan bahwa masalah sampah pendaki di TNGGP cukup membuat repot pengelola. Meskipun pengelola beserta para relawan secara rutin membersihkan sampah yang menggunung di jalur pendakian, namun sampah selalu menumpuk kembali.  Padahal menurutnya, pihak pengelola sudah menerapkan sistem administrasi yang ketat untuk mendapatkan Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) dan juga melakukan briefing kepada setiap kelompok pendaki.

“Berdasarkan hasil evaluasi kami, meskipun sosialisasi itu dilakukan sejak awal mereka mengurus SIMAKSI, namun sebagaian pendaki ini tidak merespon dengan baik. Mereka tetap meninggalkan sampah di gunung.  Itu sudah termasuk 10 menit kita ceramahi sebelum mereka melakukan pendakian,” ungkap Ardi saat dihubungi Mongabay.

Berkaca dari pengalaman panjang masalah sampah di TNGGP, Ardi menyampaikan bahwa pengelola akan menerapkan kebijakan baru yang diharapkan dapat merubah kondisi dengan cepat.

Menurut data yang dikumpulkan bersama para sukarelawan, 62% sampah yang ditinggalkan pendaki berupa botol plastik, 10% sampah kaleng, 10% sampah kain, 5% sampah kaca, 3% sampah bahan beracun berbahaya (B3), 5% sampah kertas dan kardus serta 5% sampah sisa makanan. Oleh karenanya, TNGGP akan menerapkan kebijakan untuk tidak membiarkan pendaki membawa barang yang berpotensi menghasilkan limbah ke dalam kawasan Taman Nasional.

“Mulai sekarang kita ubah. Kalau kami masih membiarkan sampah itu masuk ke dalam (kawasan Taman Nasional), kemungkinan masih 50% sampah akan tertinggal dan sisanya mungkin akan dibawa turun oleh pendaki yang sadar. Jadi prinsipnya adalah jangan sampai ada sampah masuk!”, tegasnya lebih lanjut.


1 2 3


Sumber: Mongabay
loading...
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Sponsor Iklan

loading...