-->

Saturday, 8 July 2017

(Foto: Instagram)

Jejakkaumkusam, - Gunung Rinjani itu pemandangannya sangat indah, tetapi sayangnya di sana banyak sampah," kata Siska Nirmala mengungkapkan pengalamannya saat mendaki Rinjani pada 2011.

Tak hanya Rinjani, setahun setelahnya saat dia dan teman-temannya melakukan perjalanan ke Semeru, dia juga terganggu oleh sampah yang bertebaran di mana-mana.

Hal tersebut akhirnya memotivasi perempuan kelahiran 1987 itu untuk melakukan pendakian tanpa menghasilkan sampah, karena menurut dia meski pendaki mebawa turun sampahnya tetap saja sampah seperti botol plastik akan sulit terurai.

Untuk memulai pendakian nol sampah, Siska bertekad untuk mengubah gaya hidupnya untuk tidak memproduksi sampah sama sekali.

Berbekal pengetahuan yang didapa saat pelatihan Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) di Bandung pada 2010, dia memulai hidup tanpa sampah. "Kalau aku mau pendakian tanpa sampah aku harus mulai dari diri sendiri. Sejak 2013 aku mulai mengurangi sampah di rumah. Hal yang pertama aku lakukan adalah tidak meminum air dalam kemasan," kata dia.

Tak mudah memang untuk sama sekali tidak mengonsumsi air dalam kemasan, kadang-kadang dia juga sering tergoda untuk membeli minuman kesukaannya. Namun setelah berusaha selama setahun dia berhasil.

Agar tidak minum air mineral dalam kemasan dia membawa botol minum ke mana saja, jika sedang ingin menikmati minuman segar dia memilih minum jus di tempat. Dia meminta kepada penjual agar menyajikan jus digelas tanpa sedotan.

Hal yang kedua dilakukannya adalah tidak menerima plastik kresek saat berbelanja, menurut dia mengurangi kantong kresek tidak sesulit tidak mengonsumsi air dalam kemasan.

"Setelah setengah tahun mencoba mengurangi minum air dalam kemasan, aku baru mengurangi kresek. Sebenarnya aku punya kantong belanja lucu tapi enggak pernah dipakai karena enggak pede ngasih ke kasirnya. Tetapi begitu ada motivasi untuk ngurangi sampah, saat mau bayar kantongnya udah aku pegang supaya kasirnya langsung masukin barangnya ke dalam kantong," kata dia.

Dia juga menahan diri untuk tidak ke mini market agar tidak tergoda membeli makanan ringan yang kebanyakan dibungkus dengan plastik.

Motivasinya untuk tidak "nyampah" ternyata telah mengubah pola hidupnya lebih sehat. Dia tidak lagi mengonsumsi makanan ringan dan mulai banyak makan sayur-mayur yang dibelinya di pasar tradisional, efeknya makanan yang dikonsumsi jauh lebih sehat dan irit karena dia selalu masak sendiri, sampah makanannya pun dia kompos menggunakan keranjang takakura.

Menolak kantung plastik saat berbelanja di pasar tak semudah menolak kantung plastik saat berlanja di swalayan karena budaya penjual di pasar sangat "murah" memberi kantung plastik.


Halaman selanjutnya:      

loading...
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Sponsor Iklan

loading...