 |
| Gunung Rinjani |
Jejakkaumkusam, - Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) memastikan jumlah pendaki yang boleh mendaki Rinjani akan dibatasi. Pembatasan juga bagian dari upaya mengendalikan sampah di Gunung Api yang selalu diburu para pendaki tersebut.
Sepanjang 2016 lalu, total ada 92 ribu pendaki yang mendaki Rinjani. Jika satu pendaki membawa sampah 1 kg saja, maka itu berarti ada 92 ton sampah yang dibawa naik ke Rinjani oleh para pendaki tersebut. Yang dibawa turun, sangat jauh dari memadai. Sebagian besar sampah ditinggal dan dibuang sembarang.
Kepala Sub Bagian TU Balai TNGR Mustafa Imran Lubis mengungkapkan, pihaknya belum bisa memastikan apakah angka pendaki yang tembus hingga 92 ribu dalam setahun tersebut telah overload atau tidak. Saat ini kata dia, berapa kapasitas pendakian ke Rinjani memang sedang dikaji Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Bali dan Nusa Tenggara milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
“Tapi, pembatasan pendakian Rinjani adalah tujuan kajian ini. Bulan Maret sudah dilakukan konsultasi publik,” kata Lubis.
Dia mengatakan, kajian yang dilakukan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Bali dan Nusa Tenggara itu akan menjadi rujukan pihaknya dalam menerapkan pembatasan.
Saat ini kata Lubis, rata-rata para pendaki berada di Rinjani dua malam tiga hari. Pada saat pembatasan diberlakukan, akan ditetapkan berapa pendaki yang boleh berada di Rinjani dalam satu hari pendakian. Jika batas maksimal telah dipenuhi, maka otomatis para pendaki tak bisa naik sementara waktu. Menunggu pendaki yang telah naik sebelumnya turun terlebih dahulu di hari esoknya.
“Ini juga bagian dari upaya kita untuk mengendalikan sampah di Rinjani. Pastilah, daya dukung alam juga terbatas, makanya ada pembatasan,” tandas dia.
Sementara itu, kemarin, Dinas Pariwisata NTB dan TNGR menggelar apel siaga untuk melepas Satgas Tim Rinjani bersih sekaligus membekali mereka dengan alat-alat kebersihan.
Tim Satgas ini akan stand by di titik-titik utama pendakian yakni di Pelawangan Sembalun, Pelawangan Senaru, dan di Danau Segara Anak. Mereka akan bekerja mulai Kamis hingga Minggu. “Tugas mereka adalah menangani sampah yang ditinggal pendaki, sekaligus mengedukasi para pendaki dan memastikan mereka membawa sampahnya turun kembali,” kata Kadispar NTB HL Mohammad Faozal.
Tim Satgas ini mendapat insentif tiap bulan dari Dispar NTB yang nilainya setara dengan Upah Minimum Provinsi. Ditambah pula dengan uang makan harian. Masing-masing orang akan bekerja secara bergantian dalam rentang waktu Kamis hingga Jumat di pos tugas masing-masing.
“Selebihnya untuk sampah pada hari Senin hingga Rabu, akan menjadi tanggung jawab TNGR,” kata Faozal.
Kamis ini, Tim Satgas tersebut kada dia sudah akan langsung mulai bekerja. Saat ini, pendakian Rinjani tengah memasuki masa puncak. Dan fase ini masih akan berlanjut hingga September. Saat fase puncak, di akhir pekan, dalam sehari ada lebih dari 1.000 pendaki yang naik ke Rinjani.
Faozal menyebutkan, Satgas Rinjani Bersih ini terdiri dari para kelompok dan pegiat pecinta lingkungan, masyarakat yang berada di lingkar TNGR, serta pelaku pariwisata. Jika ada sampah yang menumpuk, maka menjadi tugas Tim Satgas pula untuk membawa sampah tersebut turun kembali.
Faozal mengakui, bahwa keberadaan Tim Satgas Rinjani Bersih ini bukanlah obat mujarab bagi penanganan sampah di Rinjani yang saat ini dinilai sudah akut. Namun, setidaknya itu bisa membantu pembersihan dan mengangkut sampah yang ada di sana.
“Ini sesuai arahan yang disampaikan Pak Gubernur. Agar kami terlibat aktif dalam penanganan sampah di Rinjani,” kata Faozal.
Dijelaskannya, Tim Satgas tersebut akan menerima honor setiap bulan sesuai standar Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar Rp1,6 juta. Selain, honor tetap mereka juga akan menerima insentif bonus dari pekerjaannya tersebut.
Ke depan, kata dia, akan dirancang peraturan gubernur (Pergub) terkait sampah di Rinjani. Pergub itu akan menjadi payung hukum bagi pemberlakuan sampah berbayar yang akan dibebankan kepada para pendaki sesuai dengan jumlah sampah yang mereka tinggalkan di Rinjani. “Dengan begitu, ini tidak merupakan pungutan liar,” kata Faozal.
Mustafa Imran Lubis menambahkan, persoalan sampah yang ditinggal para pendaki Rinjani masih menjadi momok bagi wilayah itu. Sebab, banyak di antara pendaki yang tidak patuh dengan tetap membuang sampah sisa pendakian tanpa membawa sampahnya turun.
Menurut Lubis, sebenarnya TNGR sudah melakukan clean up di jalur pendakian Rinjani pada awal pembukaan jalur Maret dan April tahun ini. Namun rupanya upaya tersebut tidak cukup membebaskan Rinjani dari sampah. Karena jumlah pendaki dengan personil tidak seimbang. Sehingga, penanganan sampah menjadi terhambat.
Untuk itu, pihaknya berharap dengan keberadaan Satgas dan upaya penyuluhan yang dilakukan, bisa meminimalisir masalah sampah di Rinjani.
TNGR sendiri telah bekerja sama dengan para pencinta rinjani untuk melakukan clean up secara berkala untuk pengananan sampah di sana. “Ini dilakukan rutin,” kata Lubis.
Sementara itu, Toni dari Rinjani Care kemarin mengatakan, terakhir aktivitas pembersihan dilakukan mereka dua pekan lalu. “Kondisi di atas itu sudah lebih parah dari sampah di pasar tradisional,” katanya.
Disebutkan, porter ditengara menjadi pemasok utama sampah-sampah di Rinjani. Sebab, terutama bagi para pendaki yang membawa porter, kebutuhan logistik untuk mereka sepenuhnya di bawah oleh porter. Sehingga penting untuk mengedukasi para porter ini agar taat. Sampah yang mereka bawa naik, sepatutnya dibawa turun.
Sumber: Lombok Post