Jejakkaumkusam, - Jazz itu bebas. Jazz itu merdeka. Seperti kehidupan, jazz juga penuh improvisasi. Tak harus terpaku pada satu pola dalam partitur. Di kawasan Gunung Bromo, tepatnya di sebuah ruang terbuka di areal Java Banana, Wonotoro, Probolinggo, Jazz Gunung yang rutin digelar setiap tahun sejak 2009, barangkali merupakan terjemahan sempurna dari sebuah konsep jazz yang merdeka.
Setting panggung dibuat unik, tak ada back-drop dengan deretan logo sponsor sebagaimana biasa kita lihat di berbagai pertunjukan lain. Panggung Jazz Gunung benar-benar bersih, kecuali sebuah karya instalasi dari tegakan bambu sebagai latar panggung yang ditata secara artistik.
Kejenakaan, juga sedikit kenakalan, justru jadi warna tersendiri di arena Jazz Gunung. Panggung pertunjukan yang terbuka, udara dingin yang kian malam makin menyengat, memang perlu dihangatkan dengan penampilan yang tidak kaku, apalagi resmi.
Suasana tidak resmi ini memang sudah terasa, tidak hanya dari setting panggung dan bangku penonton yang tak terlalu berjarak, tapi juga oleh penampilan pembawa acara Alit dan Gundil, serta sosok Butet Kertaradjasa yang mampu mengocok perut pengunjung karena lontaran kata-kata mereka yang “sembarangan”,”bengal”, bahkan tak jarang sedikit “ngaco”. Bukan tak mungkin, ketika panggung diisi grup yang sedikit membosankan, sebagian penonton malah berharap ketiga pembawa acara ini segera muncul.
Jazz, memang bukan hanya lebih dari sekadar musik, ia adalah ruang dialog dengan bunyian yang melampaui tata bahasa bikinan manusia. Di atas panggung, komunikasi bisa terjadi antar-musisi tanpa kita harus paham apa arti harfiah dari rangkaian bunyi yang mereka ucapkan.(Radarmalang)
loading...


