![]() |
| Foto: Dok. Unair |
Jejakkaumkusam, - Berada di gunung es selama 21 hari, tentu menyisakan banyak kenangan di kepala tiga mahasiswa Surabaya. Pasalnya, demi mencapai puncak Denali di Amerika, mereka harus mengalami peristiwa yang mendebarkan, menegangkan, dan mengharukan.
Dua atlet yang tergabung dalam Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDeX) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam Wanala Universitas Airlangga (Unair) yakni Muhammad Faishal Tamimi dan Mochammad Roby Yahya membagi kisah inspiratifnya saat mendaki gunung es tersebut.
"Di San Francisco sudah mulai dingin dan berangin. Suhu di sana berkisar antara 13 sampai 17 derajat Celcius. Ya sudah kita tinggal pakai jaket biar (suhu tubuh) terjaga agar tidak terlalu dingin dan kena angin," kisah Faishal seperti dilansir dari laman Unair, Jumat (11/8/2017).
Beranjak dari San Francisco, selanjutnya mereka masih harus menempuh perjalanan panjang menuju desa terakhir sebelum sampai ke Denali, Talkeetna, Alaska.
Banyak kisah menarik sepanjang perjalanan menuju puncak. Salah satunya yakni pada hari kedua pendakian. Faishal mengaku, mereka bertiga termasuk Yasak benar-benar mempraktikkan teknik evakuasi diri. Pasalnya, pemandu tim terjatuh selang beberapa meter sebelum mencapai kamp pertama.
Namun berkat teknik moving together dan pengamanan diri yang telah ditempa selama latihan pra-keberangkatan, ketiganya langsung sigap menyelamatkan rekan setimnya tersebut.
"Kita benar-benar sudah waspada. Cuma crevasse (ceruk salju) tertutup salju yang baru. Tiba-tiba, guide-nya jatuh dan hilang gitu saja. Untungnya, ada sistem moving together. Tiap atlet dipasang tali pengaman. Mas Yasak dan saya langsung jadi anchor atau pengaman," lanjut alumni Fakultas Vokasi Unair.
Cobaan dalam pendakian tidak berhenti di situ saja. Para pendaki Gunung Denali tersebut juga mengalami kondisi di mana kadar oksigen menipis. Terlebih, kondisi di kamp yang dingin dan berangin membuat langkah para atlet asal Surabaya ini terhenti selama beberapa hari.
"Soalnya, dingin banget, anginnya juga kencang, dan itu sudah mulai di ketinggian 5.000 mdpl, kadar oksigen sudah mulai menipis. Kita harus ambil nafas yang dalam dulu beberapa kali baru bisa sekali jalan," tambah Roby Yahya, seorang mahasiswa di jurusan Budidaya Perairan.
Meski rintangan terus ada di depan mata, tim atlet merasa optimis untuk mengibarkan Merah Putih dan UNAIR di tiang tertinggi Langit Utara. Di benak Faishal, tak pernah terbersit sekalipun untuk menyerah. Ia optimis bahwa mereka bisa kembali ke Indonesia dengan selamat.
Begitu pun Roby. Ia merasa rintangan yang ditemui tim AIDeX selama pendakian tak sekalipun menyurutkan niatnya untuk mundur. "Ketika kita berangkat saja udah white out di hari kedua. Itu sejak kita berada di basecamp," kata Roby.
Bagi mereka bertiga, pengalaman mendaki gunung es di Amerika Utara tersebut adalah pengalaman yang mengesankan dan tak terlupakan. Meskipun, pada pendakian tersebut ketiganya terkena radang dingin. Keberhasilan menapakkan kaki dan mengibarkan Merah Putih di ketinggian 6.194 mdpl pun pada akhirnya membuat mereka bersyukur.
"Saya bersyukur. Tidak semua orang punya kesempatan untuk mencapai puncak Denali," tandas Roby.(Okezone)
loading...

