-->

Saturday, 12 August 2017

Ilustrasi

Jejakkaumkusam, - Lima pendaki berkebangsaan Jepang dan Spanyol dipaksa membatalkan pendakian ke puncak Cartenz oleh pihak kepolisian pada Kamis (10/8). Padahal kelima pendaki tersebut telah mengantongi travelling Permit dari Mabes Polri.

Empat pendaki berkebangsaan Jepang yakni Katsuyuki Arai, Noriaki Matsuda Tadashi Motohashi, Akihisa Suzuki. Sementara seorang pendaki berkebangsaan Spanyol atas nama, Marcos Soler Perez.

Dugaan sementara, pembatalan tersebut terkait agenda pendakian Puncak Cartensz oleh Tim Ekspedisi Cartensz Polri yang akan dilepas Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Guide Operator Adventure Indonesia, Meldy Senduk menegaskan, pihaknya dirugikan dengan pembatalan tersebut karena tak sampai pada tujuan yang direncanakan. “Rencana Pak Tito ini untuk mendongkrak pariwisata di Papua khususnya Cartensz Piramyd. Tapi disaat ada wisatawan yang datang justru dilarang, itu ironis namanya kan,” kata Meldy kepada wartawan di Grand Tembaga Hotel, Timika, Jumat (11/8).

Padahal, menurut Meldy, pihak Mabes Polri saat menerbitkan travelling Permit telah mengetahui rencana pendakian mereka bersamaan waktu dengan kunjungan Kapolri dan agenda Tim Ekspedisi Cartenz Polri ke Puncak Cartensz. “Sampai di Timika kami juga langsung lapor tiba di Polres Mimika dan tidak ada masalah,” ujarnya.

Meldy menuturkan, pada Kamis (10/8) pagi Katsuyuki Arai dan Marcos Soler Perez didampingi guide Jeni Dainga take off menuju Yellow Valley menggunakan helikopter Asian One Air. Sementara tiga pendaki dan guide Meldy Senduk gagal take off karena cuaca buruk.

Namun, saat di Base Camp Yellow Valley, ketiganya dievakuasi turun karena dilarang melakukan pendakian. “Saya tahu ada larangan saat teman kami melaporkan dari Ridge Camp. Katanya kami sudah dibawa ke bawah karena dilarang mendaki,” ungkap Meldy.

Hingga Jumat petang, kedua pendaki ditambah guidenya belum bisa dievakuasi ke Kota Timika karena alasan tidak ada kendaraan. Ketiganya masih di Polsek Tembagapura.

Masalah kemudian bertambah karena seluruh barang kelima pendaki turut diangkut dalam flight pertama bersama dua pendaki dan seorang guide. Sementara saat ketiganya dievakuasi, seluruh barang tertinggal di Base Camp Yellow Valley. “Paspor dan dokumen penting lainnya ada di dalam tas, termasuk beberapa peralatan yang harganya tidak murah. Kami masih terus koordinasi cari jalan agar barang-barang kami kembali,” ujar Meldy.

Pada Kamis (10/8) Polres Mimika melalui Polsek Kawasan Bandara Mozes Kilangin menerbitkan surat pemberitahuan pelarangan pendaki ke Puncak Cartensz. Sejak 11 hingga 20 Agustus 2017, seluruh air lines dilarang terbang ke arah Cartensz.

Meldy menyayangkan surat tersebut tidak disampaikan ke pihaknya. “Kalau tahu ada larangan itu, kami tidak akan mendaki. Sekarang kami menunggu ketiga rekan dan barang-barang kami, setelah itu langsung pulang Jakarta,” kata Meldy.(Harianpapuanews)

loading...
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Sponsor Iklan

loading...