![]() |
| Liku-liku Wafa Mahasiswa UIN Walisongo Jadi Pemandu Pendaki Gunung |
Jejakkaumkusam, - Tergabung dalam sebuah website pemandu wisata, Maulana Muzaki Fatawa (23) memulai karirnya sebagai pemandu pendaki gunung.
Sudah sejak pertengahan 2016 lalu ia mulai menjadikan hobinya sebagai pendaki gunung untuk mencari penghasilan.
Memiliki hobi mendaki tahun 2015, mahasiswa jurusan Hukum Perdata Islam UIN Walisongo ini mulai mendaki sejak memasuki semester dua.
![]() |
| Liku-liku Wafa Mahasiswa UIN Walisongo Jadi Pemandu Pendaki Gunung (tribunjateng/ist) |
Karena hobi, hampir dua minggu sekali ia menaklukkan gunung-gunung di pulau jawa.
Hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2016 ada seorang teman yang menawarkan untuk bergabung pada sebuah website pemandu wisata yang berasal dari Jogja.
“Awalnya saya diajak, namun tiga kali janji semuanya dibatalkan, jadi waktu dia ngajak berikutnya nggak saya anggap serius, tapi ternyata jadi. Dari situ akhirnya saya dipercaya untuk menjadi guide”.
Meski pernah berangan-angan dapat menghasilkan uang dari hobinya ia tak pernah menyangka kalau dirinya akan menjadi seorang mountaineering guide.
Awalnya banyak pula yang mengejeknya nggak mungkin kuat untuk menjadi pendaki karena ia memiliki badan yang kecil, namun hal itu justru menjadi pemicu semangatnya.
![]() |
| Liku-liku Wafa Mahasiswa UIN Walisongo Jadi Pemandu Pendaki Gunung (tribunjateng/ist) |
"Awal pendakian saya nggak bisa sampai puncak, diejek teman, masa gitu aja nggak kuat, tapi saya buat enjoy aja. Besoknya naik lagi akhirnya kuat. Besoknya naik lagi akhirnya bisa naik gunung yang lebih tinggi. Akhirnya besoknya lagi naik terus gitu ya sampai sekarang sudah teruji. Malah tenaga saya bisa menghasilkan uang," kata Maulana pria kelahiran Demak, 31 Juli 1994.
Dalam sekali pendakian ia biasanya mendapatkan bayaran pokok Rp 500 ribu, belum termasuk fee dari pendaki yang didampingi dan kadang ia juga mendapat tambahan uang bensin.
Dalam satu kali pendakian biasanya satu rombongan akan didampingi dua sampai tiga orang tergantung banyaknya rombongan dan akan dibagi dua tugas yaitu yang bertugas sebagai perlengkapan dan juga logistik.
Perlengkapan tugasnya yaitu menyiapkan semua peralatan, dari tenda dan juga alat masak. Itu yang paling utama. Sedangkan tim logistik itu bertugas untuk masak dan membawa makanan serta obat-obatan. Namun pada intinya tetap kerja sama tim jadi saling membantu antar sesama guide. "
Pokoknya kita bertaggung jawab atas semuanya kesehatan, makanan dan keselamatan pendaki yang kita dampingi," terang remaja yang akrab disapa Wafa ini.
Selain itu biasanya rombongan juga akan dijemput dari bandara atau stasiun menuju basecamp pendakian.
"Dalam sekali pendakian satu orang bisa mengeluarkan hingga Rp 2 jutaan. Itu sudah termasuk membayar porter, dan juga pendaftaran, jadi pendaki cukup membawa peralatan pribadi, semuanya sudah kita siapkan," terangnya.
Selama menjadi pemandu ia sudah mendampingi beberapa rombongan baik itu dari Jawa Barat, Jakarta hingga turis dari Malaysia dan juga Singapura mendaki Gunung Lawu, Merbabu dan juga Slamet. Sedangkan ia sendiri mengaku sudah menaklukkan seluruh gunung di Jawa Tengah dan juga Gunung Semeru di Jawa Timur sebelum menjadi pemandu.
Menaiki gunung Slamet dan Gunung Lawu dengan membawa rombongan baginya memiliki tantangan tersendiri, selain medannya yang cukup sulit ketinggian Gunung Slamet dan juga dinginnya udara di Puncak Lawu merupakan sebuah kesulitan baginya dan juga teman-teman sesama pemandu. Apalagi saat mendaki gunung Lawu ia membawa rombonga sebanyak 19 orang dan itu merupakan rombongan terbanyak yang pernah ia pandu.
Meskipun website yang menaunginya merupakan wadah guide wisata seluruh indonesia namun ia hanya bertugas memandu untuk pendakian gunung di wilayah Jawa Tengah “Karena takutnya, kita kan membawa tamu dan kita juga bertaggung jawab atas semuanya mulai dari kesehatan, makanan dan keselamatan juga jadi kalau misalnya kita belum tau ke daerah Jawa Barat terus kita memandu daerah Jawa Barat itu bisa jadi bahaya. Meskipun kita punya banyak pengalaman pendakiannya banyak, tap kita tidak tau lokasinya juga bahaya,” ulasnya.
Ia punya target suatu saat tidak hanya gunung-gunung di pulau Jawa tapi juga di seluruh Indonesia.
"Target saya kedepan kalau nggak Kerinci ya Rinjani, tapi saya utamakan Kerinci karena di sana alamnya lebih tertutup hutannya juga lebih lebat daripada Rinjani," jelasnya yang kini memasuki semester tujuh perkuliahannya.
Selain menjadi pemandu pendakian ia juga menyewakan alat-alat dan perlengkapan pendakian di rumahnya yang beralamat di Jalan Raden Sahid Kampung Petek Rt 01/Rw 04 No 3 Kadilangu, Demak.
Satu set peralatan biasanya ia sewakan mulai dari Rp 160.000 hingga Rp 200.000 perhari, terdiri dari tas, tenda, peralatan masak dan juga alas tidur.
Wafa berharap suatu saat nanti dapat membuka usaha sendiri dari hasil pendakiannya. “Jika dulu harus mengeluarkan uang sekitar dua hingga tiga ratus ribu untuk sekali pendakian. Sekarang alhamdulillah bisa mendaki gratis, bahkan mendapatkan uang. Itu merupakan suatu kebanggan tersendiri, karena bagi saya ketika diajak teman dan digratisi tiket masuk atau bensin saja itu sudah sangat senang.” tuturnya bangga.
Selain itu ia juga berharap kedepannya ia dan teman-temannya bisa mendirikan sendiri web pemandu pendakian “Sebenarnya tanpa melalui web tersebut juga bisa, langsung hubungi saya saja lewat instagram. Karena saya juga punya komunitas dari teman-teman pendaki Demak diluar web yang bisa memandu.” Ucap pemilik akun instagram @wafa_fatawa tersebut “Siapa tau bisa lebih murah kalau langsung ke saya," candanya.(Tribun Jateng)
loading...



